9 Cara Mendidik Anak Nakal Dengan Hukuman “Positif”

17 views

Tips Mendidik Anak - Banyak orangtua menyesal dan bersedih setelah memukul anaknya, tetapi mereka tidak tahu apa lagi yang mesti dilakukan. Memukul, menyubit, menabok, menampar anak mengajarkan kepada anak-anak bahwa agresi dan kekerasan adalah cara yang tepat untuk menyelesaikan persoalan mereka, kini dan nanti. Memukul anak hanya akan mengajarkan dan menumbuhkan kekerasan lebih besar lagi – hal yang kini meruyak dalam masyarakat kita. Selain itu, anak-anak yang kerap ditabok memiliki rasa percaya diri dan harga diri yang rendah saat remaja dan dewasa. Mereka juga lebih rentan depresi, serta cenderung mendapatkan pekerjaan yang bergaji rendah.

Cara Mendidik Anak Nakal

Ilustrasi Cara Mendidik Anak Nakal

Jadi, apa yang mesti kita lakukan sebagai orangtua? Berikut ini 9 cara mendidik anak nakal yang baik dengan hukuman "positif".

Cara Mendidik Anak Nakal

1. TENANGLAH

Pertama, bila Anda merasa marah dan ingin menabok atau menampar anak Anda, jauhi anak Anda atau tinggalkan situasi itu, bila memungkinkan. Masuklah ke kamar, kunci pintunya, dan tenangkan diri Anda. Dalam saat bersendiri yang tenang itu seringkali Anda akan menemukan alternatif atau solusi untuk mengatasi masalah yang baru saja terjadi. Kadang-kadang, orangtua kehabisan ide atau bahkan kehilangan akal saat digencet banyak stres. Masakan sudah mendidih tetapi anak-anak bertengkar, telpon berdering, dan salah satu anak Anda memecahkan vas bunga, maka Anda pun kehilangan kesabaran. Kalau Anda tak bisa meninggalkan situasi tersebut, tenangkan diri Anda dengan menarik nafas lewat hidung dan menghembuskannya lewat mulut sekitar delapan kali.

2. SISIHKAN WAKTU UNTUK DIRI SENDIRI

Orangtua lebih rentan memukul anaknya bila mereka tidak punya waktu untuk diri sendiri dan merasa terbebani setumpuk pekerjaan dan merasa dikejar-kejar tenggat. Jadi, sangat penting bagi orangtua – baik ayah maupun bunda – untuk sengaja menetapkan waktu untuk dirinya sendiri. Lakukan kegiatan sesuai kegemaran dan minat Anda: merebahkan diri di ranjang sambil membaca novel romantis, berkebun bunga, atau BERDOA.

3. BERSIKAP LEMBUT TETAPI TEGAS

Situasi lain yang kerap membuat orangtua frustrasi sehingga menabok anak adalah bila mereka tidak mau mendengarkan perintah atau permintaan Anda yang sudah Anda ulang berkali-kali agar mereka bertingkah baik. Akhirnya Anda menjewer atau menyubitnya agar anak Anda bisa diam atau bersikap tenang. Dalam situasi seperti ini, sangat penting untuk turun ke level anak Anda: dekati dirinya, sentuhlah pundaknya dengan lembut, dan beritahu secara singkat dan tegas perbuatan seperti apa yang Anda inginkan dari dirinya. Misalnya, “Bunda percaya kamu bisa bermain dengan tenang.”

4. BERI PILIHAN

Memberi anak Anda suatu pilihan adalah alternatif yang efektif dibandingkan memukul anak. Kalau ia memain-mainkan makanannya di meja, tanyakan kepadanya, “Apakah kamu mau berhenti memainkan makananmu atau kamu ingin meninggalkan meja?” (Jangan khawatir kalau ia kelaparan atau tidak mendapat gizi yang cukup. Nanti saat ia lapar, ia pasti akan meminta makan). Pembiasaan makan tenang di meja makan ini hanya perlu beberapa hari – bila Anda dan semua seisi rumah konsisten menerapkannya). Kalau ia tetap memainkan makanannya, gunakan langkah ke tiga diatas (tindakan lembut tetapi tegas). Turunkan ia dari meja makan, kemudian katakan kepadanya bahwa ia boleh kembali ke meja makan dan makan bila ia sudah siap untuk makan makanannya tanpa memainkannya.

5. GUNAKAN KONSEKUENSI LOGIS

Konsekuensi yang secara logis terkait langsung dengan perilaku akan membantu anak-anak belajar tentang tanggung jawab. Sebagai contoh, anak Anda memecahkan kaca jendela tetangga saat bermain bola dan Anda menghukumnya dengan menabok pantatnya. Apa yang ia pelajari dari situasi ini? Ia mungkin belajar untuk tak pernah melakukan itu lagi, tetapi ia juga bisa belajar bahwa ia perlu menyembunyikan kesalahannya, menyalahkan orang lain, berbohong, atau bertingkah cerdik agar tak tertangkap basah atau upaya lain agar Anda tidak sampai mengetahuinya. Ia juga belajar bahwa ia adalah anak yang nakal, buruk atau jahat. Ia juga belajar untuk merasa marah dan membalas orangtua yang telah memukulnya. Ketika Anda menyubit anak Anda, ia mungkin bertingkah baik hanya karena ia takut dicubit lagi. Tetapi, apakah itu yang memang Anda inginkan? Anak Anda berbuat baik lebih karena takut kepada Anda daripada karena menghargai dan mengasihi Anda?

Bandingkan dengan situasi di mana seorang anak memecahkan jendela tetangga dan orangtuanya berkata, “Bunda tahu kamu memecahkan jendela itu. Apa yang akan kamu lakukan untuk memperbaikinya?” dengan suara yang lembut tapi tegas. Anak itu memutuskan untuk menyapu halaman tetangga dan mencuci mobilnya beberapa kali untuk membayar kembali biaya perbaikan jendela. Apa yang dipelajari anak dari situasi ini? Bahwa kesalahan adalah bagian yang tidak terelakkan dari kehidupan dan bahwa sangat penting untuk tidak berbuat kesalahan lagi. Dan kalau nanti ia berbuat kesalahan lagi, maka ia mesti bertanggung jawab untuk memperbaiki kesalahan itu. Fokusnya adalah menyingkirkan kesalahan dan meletakkan tanggung jawab untuk memperbaiki kesalahan itu. Anak tidak merasakan kemarahan atau balas dendam terhadap orangtuanya. Dan yang paling penting, rasa percaya diri anak tidak rusak. Sebaliknya, ia merasakan kasih sejati Anda.

6. BERBAIKAN

Pada saat anak-anak melanggar kesepakatan atau aturan, orangtua cenderung ingin menghukumnya. Alternatifnya adalah meminta anak Anda melakukan perbaikan (saya lebih menyukai istilah dari bahasa Jawa: “wawuh”. Berbaikan atau “wawuh” adalah sesuatu yang orang lakukan untuk membuat dirinya kembali menyatu dengan orang yang tadinya berpisah atau bermusuhan (Jawa: “siwak”) dengannya, menyatu kembali dengan orang yang ia khianati, yang janji dengannya tidak bisa ditepati si anak. Sebagai contoh, beberapa anak lelaki menginap di rumah Vishnu. Ayah Vishnu meminta mereka untuk tidak ke luar rumah setelah tengah malam. Ternyata, semua anak lelaki itu melanggar janji mereka. Si ayah marah dan menghukum mereka dengan mengatakan bahwa mereka tak boleh menginap lagi sampai dua bulan. Vishnu dan kawan-kawannya menjadi marah, ngambek dan tak mau menurut akibat hukuman itu. Sang ayah menyadari apa yang telah ia perbuat. Ia meminta maaf karena telah menghukum mereka dan memberitahu mereka betapa ia merasa dikhianati dan membicarakan pentingnya memenuhi janji. Ia kemudian meminta anak-anak lelaki itu untuk melakukan usaha-usaha perbaikan (wawuh). Mereka memutuskan untuk membantu mengecat tembok garasi yang memang tengah dikerjakan ayah. Anak-anak itu sangat antusias mengerjakan projek mengecat ersebut dan kemudian bisa memegang janji saat acara-acara menginap berikutnya.

7. MENJAUH DARI KONFLIK

Anak-anak yang menjawab, membantah atau meremehkan pernyataan atau perintah orangtua dapat memicu ayah atau ibunya untuk menampar mulut ataupipinya. Dalam situasi ini, cara terbaik adalah bersegera pergi dari situasi itu. Tetapi, jangan meninggalkan ruangan dalam keadan marah atau kalah. Dengan tenang katakan, “Bunda ada di kamar sebelah kalau kamu ingin bicara kepada Bunda dengan lebih hormat.”

8. GUNAKAN TINDAKAN LEMBUT TETAPI TEGAS

Daripada menampol tangan bayi atau menabok pantatnya ketika ia menyentuh atau memegang sesuatu yang tidak diperbolehkan, dengan lembut dan tegas angkat dirinya dan bawa ke ruangan lain. Berikan ia sebuah mainan atau barang lainnya yang bisa mengalihkan perhatiannya sambil mengatakan, “Kamu bisa mencoba mainan/barang itu lain kali.” Anda mesti melakukan hal ini beberapa kali kalau ia gigih menginginkan apa yang tadi dimainkannya.

9. BERITAHU ANAK TERLEBIH DAHULU

Tantrum seorang anak bisa dengan mudah menyalakan sumbu kemarahan orangtua. Anak-anak kerap tantrum bila mereka merasa tidak tahu atau tidak berdaya dalam suatu situasi. Perasaan ini pasti muncul jika orangtua mendadak memberi tahu aturan ini-itu, tiba-tiba melarang ini dan itu, atau tanpa ba-bi-bu memerintahkan ini dan itu. Sebagai contoh, alih-alih memerintahkan anak Anda untuk saat itu juga pulang dari rumah temannya, beritahu dia bahwa ia mesti pulang lima menit lagi. Ini memungkinkan anak Anda untuk menyelesaikan apa yang tengah ia lakukan.

Demikian 9 cara menidik anak yang baik. Semoga bermanfaat !.

Dono Baswardono

Tags: #cara mendidik anak perempuan #cara mendidik anak remaja #mendidik anak yang baik

Leave a reply "9 Cara Mendidik Anak Nakal Dengan Hukuman “Positif”"

Author: 
    author
    No related post!